Tampilkan postingan dengan label at last i know it. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label at last i know it. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Februari 2016

Bunda, Lindungi Anak Kita dari Virus Pengingkar Fitrah

Bunda, Lindungi Ananda dari Virus LGBT

Sejak beberapa bulan terakhir ramai sekali diperbincangkan tentang LGBT. Virus yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu ini menyeruak di tengah masyarakat, mulai dari serangannya ke kampus-kampus hingga parahnya mulai menyerang anak-anak belia. Ini terlihat dari ditemukannya akun twitter nak-anak pengidap LGBT.

Bunda, pernahkah Njenengan mendengar atau menemukan ayam jantan kawin dengan ayam jantan? Atau kucing betina kawin dengan kucing betina juga? Dalam sepertiga abad usia saya, belum pernah saya mendengar berita itu. Saking mustahilnya sampai-sampai ada istilah "masak jeruk minum jeruk?"

Namun ini, di tengah-tengah manusia yang Alloh ciptakan begitu sempurna dengan karunia akal pikiran, serta diberi kedudukan mulia dari binatang kok malah ada yang demikian. Laki-laki kawin dengan laki-laki, perempuan kawin dengan perempuan... Itulah yang dinamakan homoseksual, Lesbian dan Gay. Saya tidak menggunakan istilah menikah, karena menikah itu sesuatu yang terhormat.

Padahal Alloh menganugerahkan rasa suka, rasa cinta, naluri berkasihsayang itu agar manusia bisa berketurunan dan tidak punah.

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang tekah menjadikan kamu darinseorang diri, dan menjadikan istrimu dari padanya. Dan dari keduanya Alloh memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kamu kepada Alloh yang kamu saling meminta dengan namanya, dan takutlah akan memutuskan tali silaturahmi. Sesungguhnya Alloh mengawasi kamu." (QS. AnNisa :1)

Nah, kalau laki-laki kawin dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, bisa nggak punya anak? Nggak kan? Kalaupun bisa mengadopsi, tetap saja membutuhkan pertemuan laki-laki dan perempuan.

Sekarang coba Bunda bayangkan, saat ini orang-orang seperti itu sedang menyebarkan idenya ke tengah kita, mengajak kita dan anak-anak kita memaklumi dan menerima mereka, bahkan mengajak kita menjadi seperti mereka. Njenengan ridho?

Ditambah lagi, Bunda ingat nasib kaum Sodom, di masa Nabi Luth? Mereka diazab Alloh dengan azab yang pedih karena menjadi pelaku dan pendukung lesbian dan gay. Tak mau lah mengulang dosa yang sama seperti kaum ini.

Kenapa LGBT bisa marak? Karena keimanan di tengah masyarakat semakin tipis. Ketika manusia tak mau diatur dengan aturannya Alloh yang Menciptakannya, dengan apa mereka mengatur dirinya? Dengan hawa nafsunya, kan? Apa-apa suka-suka gue. Ketika Alloh menciptakan manusia berpasang-pasangan, dia malah memilih menyalurkan syahwatnya dengan sesama jenis.

Di sisin lain, kehidupan ini semakin individualis, istilahnya 'nafsi-nafsi'. Budaya saling peduli dan mengingatkan semakin luntur. Jika kita melihat kemaksiatan maka tidak boleh protes, nanti dibilang "Jangan ikut campur urusan orang.". Akhirnya pelaku kemaksiatan merasa bebas dan jumlahnya makin bertambah. Masyarakat pun menjadi terbiasa dan tidak risih lagi melihat kemaksiatan.

Parahnya, orangtua tak boleh pula mengatur hidup buah hatinya karena ada yang namanya kebebasan bertingkahlaku yang dijamin oleh HAM. Anak bebas melakukan apa saja, termasuk ketika memilih menjadi LGBT.

Sementara pemerintah pun tak punya 'gigi' dalam menindak kemaksiatan. Dalam kasus LGBT, pemerintah kalah dengan kaum pengingkar fitrah ini. Ketika beberapa pejabat negara mengecam dan mengkritik kaum LGBT, mereka malah dituntut oleh kaum ini. Pemerintah tak berdaya karena dipasung sistem sekuler dan liberal yang diadopsinya dalam mengatur negara.

Lalu apa yang harus Bunda perbuat untk melindungi ananda dari bahaya virus ini?

Alloh Sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya telah memiliki seperangkat aturan untuk menjaga manusia. Dalam pendidikan Islam, laki-laki dan perempuan diperintahkan menutup aurat dengan sempurna, termasuk menjaga batasan aurat pada sesama jenisnya. Jadi, jangan dibiasakan dan dibiarkan ananda mandi bareng-bareng, njeh Bunda... Adapula larangan tidur dalam satu selimut meski dengan sesama jenis.

Rasulullah juga melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Sahabat Rasulullah Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

Rasulullah shalllallahu’alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian wanita, dan wanita yang mengenakan pakaian laki-laki.” [HR. Abu Daud, An-Nasaai dan Ibnu Majah, Shahihut Targib: 2069]

Al-Munawi rahimahullah berkata,

فيه كما قال النووي حرمة تشبه الرجال بالنساء وعكسه لأنه إذا حرم في اللباس ففي الحركات والسكنات والتصنع بالأعضاء والأصوات أولى بالذم والقبح فيحرم على الرجال التشبه بالنساء وعكسه في لباس اختص به المشبه بل يفسق فاعله للوعيد عليه باللعن

“Dalam hadits ini terdapat pelajaran -sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi- haramnya laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya, karena apabila penyerupaan dalam pakaian itu diharamkan maka penyerupaan dalam gerakan, diam, gaya tubuh dan suara lebih pantas untuk dicela dan dijelekkan, sehingga diharamkan atas laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya dalam pakaian yang khusus bagi yang diserupai tersebut, bahkan pelakunya dihukumi fasik (pelaku dosa besar) karena adanya ancaman laknat atasnya.” [Faidhul Qodiir, 5/343]

Jangan lupa pula, Bunda. Didiklah anak lelaki dengan kelelakiannya dan anak perempuan dengan keperempuanannya.

Yang terpenting adalah, tanamkan keimanan yang kuat pada AllohTa'ala. Keimanan menuntut kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Alloh adalah sebaik-baik Pencipta dan Pengatur. Kita pun akan ridho dengan apapun yang Alloh anugerahkan, ridho ketika Alloh menciptakannya sebagai perempuan ataupun laki-laki, dan kita akan berusaha menjalankan peran itu dengan penuh rasa syukur.

Jangan lupa pula, semua kerusakan ini didukung oleh aturan hidup sekuler dan liberal yang diterapkan oleh negara. Jika ingin ananda hidup aman dari serangan LGBT, ciptakan masyarakat yang kondusif, yaitu dengan diterapkannya aturan Alloh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Oke, Bunda?

Selasa, 20 Januari 2015

Don't Ask Me To Be Your Valentine (#FF)



Matahari kian meninggi, namun tak menyurutkan langkah kaki Rani menuju perpustakaan kota. Di sanalah dia akan bertemu Aldo, kakak kelasnya yang jago matematika.

Sudah beberapa kali Rani minta diajari mengerjakan tugas matematika di waktu istirahat pelajaran, terakhir Aldo mengajak bertemu di perpustakaan kota. Agar bisa lebih leluasa mengajari, begitu katanya.

Begitu memasuki ruang perpustakaan, mata gadis berkerudung hijau pupus itu tertumbuk pada sosok berkemeja krem di sudut ruangan. Segera dihampirinya lelaki itu.
“Ehm, dah lama nunggu, Kak?” Sapa Rani,
Sosok itu nampak terkejut, secepat kilat diraihnya tas yang tadi tergeletak di meja dan diletakkan begitu saja di kolong.
“Eh..., nggak. Nggak lama. Ayo duduk!” Jawabnya

Dengan santai Rani mengambil posisi di hadapan Aldo, membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku paket matematika kelas 11. Tak lama kemudian mereka asyik membahas soal-soal statistika di buku itu.

***
Aldo mendongak melihat jam dinding perpustakaan yang terletak persis di atas Rani.

“Sudah jam 4 kurang 10 menit, Ran. Sebentar lagi perpustakaan tutup.” Ujarnya,
“Aduh... tanggung nih, padahal masih satu soal lagi.” Sahut Rani sambil tetap menulis.
“Hmm...”
“Oya, Rani ingat sekarang tanggal berapa?” Lanjut Aldo setengah berbisik,
Dengan cuek, Rani menjawab “Tanggal 14 Februari. Udah ah, jangan diajak ngomong terus... lagi serius.”,
“Rani... i just wanna ask you to be my Valentine.” Bisik Aldo sambil mengulurkan sebuah cincin perak dengan lambang hati,

Seketika Rani menghentikan aktivitasnya, Dia membelalakkan mata sipitnya.
“What???” Tanyanya setengah berteriak, beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
Aldo terkejut, tak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu. Dengan tergesa Rani memasukkan buku dan alat tulisnya lalu bangkit dan berlari keluar.

“Rani, tunggu!” Teriak Aldo di belakangnya.

***
“Rani, kamu kenapa? Kamu nggak suka?” Tanya Aldo saat mereka sudah berada di luar perpustakaan.
Rani berhenti, dia membalikkan badannya dan menatap Aldo dengan marah.
“Kakak nggak tau? Aku ini anak Rohis. Kerudungku aja selebar ini, bisa buat terbang! Siapapun juga tau, anak Rohis nggak Valentin-an. Aku anti pacaran, tauk!” Jawabnya dengan marah. Gadis itu tersinggung berat.

Aldo terdiam, Rani segera berlari pulang meninggalkan kebisuan.

***
“Teganya Kak Aldo! Masa’ Rani disamain sama cewek-cewek yang mau aja dipacarin. Masa’ Rani dianggap cewek murahan!” Ungkap Rani pada Bundanya. Dia biarkan air matanya mengalir membasahi pundak Bunda tercinta.

Bunda membelai kerudung Rani dengan lembut, “Rani sayang, ingat tidak pesan Bunda ketika Rani lulus SMP?”

Rani menerawang ke masa itu.
Sepulang acara wisuda kelulusan SMP, dia berdua saja dengan Bunda di dalam angkot menuju ke rumahnya. Bunda tampak bangga dengan kelulusan Rani, sekaligus cemas.

“Rani, sekarang anak Bunda makin besar. Ibarat bunga, semakin mewangi. Jaga pergaulanmu baik-baik, ya Nak. Kasihani Almarhum Abah juga...”
“Bunda bersyukur Rani sudah berhijab sempurna, dengan jilbab dan kerudung lebar. Tapi godaan pergaulan tak akan pernah surut. Ingat syari’at agama kita...” Lanjut Bunda,
 Rani tertawa kecil, “Alah... Rani ngerti, kok. Nggak boleh pacaran, kan? Rani nggak mau pacaran, maunya nikah aja.”
Bunda tersenyum tipis, “Bukan Cuma pacarannya, Nak. Tapi jalan menuju ke sana juga harus kamu hindari. Berakrab-akrab, berdua-duaan dengan laki-laki juga harus dijauhi. Kita tidak tahu pintu masuknya syaithon itu dari mana.”
“Gampang lah itu, Bunda... Lagian cowok juga kalo liat yang pakaiannya kayak gini mana mau ndeketin.” Sahut Rani sambil menjentikkan jarinya.

***
Kini Rani faham, dia sudah merasakan apa yang dikhawatirkan Bunda. Kelalaiannya membuahkan noda di hati Aldo, dan juga di hatinya. Dia nyaris terseret...

Air matanya semakin deras, dipeluknya Bunda erat-erat.
“Ampuni Hamba, ya Allah... Hamba salah, hamba telah lalai. Hamba akan lebih menjaga pergaulan hamba sebagaimana rambu-rambu yang telah Kau gariskan.”

Bunda menitikkan air mata dalam keharuan, Ia bahagia putrinya telah kembali sebelum terjerumus lebih dalam.
(Rawagede, 20/01/2015)



Minggu, 18 Januari 2015

Bebaskan Perempuan Dari Iklan Eksploitatif

Menyoal Iklan

Iklan merupakan nyawa bagi sebuah produk. Tanpa adanya iklan atau promosi, sebaik apapun produk itu tak akan dikenal dan bertahan lama di pasaran. Tak heran jika produsen rela memasukkan biaya pembuatan iklan yang cukup besar sebagai pengeluaran tetap bagi perusahaannya.
Melihat peluang tersebut, muncullah industri periklanan yang secara khusus bergerak di bidang produksi iklan. Mereka ibarat teman karib para produsen yang siap membantu mempromosikan produknya di tengah-tengah masyarakat.

Sebenarnya persoalan iklan ini sah-sah saja selama tidak berbenturan dengan norma agama serta norma-norma dalam masyarakat lainnya. Namun yang jadi permasalahan, kebebasan berekspresi sebagai salah satu hak yang mutlak ada dalam sistem demokrasi menjadikan iklan banyak melanggar norma-norma tersebut.

Eksploitasi Seksual Dalam Iklan

Satu pelanggaran yang akan kita bahas kali ini adalah masalah eksploitasi seksual dalam iklan. Berapa banyak sih iklan yang tak melibatkan perempuan sebagai obyek di dalamnya? Dari sekian banyak iklan yang menjadikan perempuan sebagai obyek, berapa banyak yang tidak mempertontonkan kemolekan tubuh perempuan?

Dari mulai iklan produk perawatan tubuh hingga pompa air dan produk otomotif, bertebaran tubuh perempuan. Bukankah itu adalah bentuk eksploitasi seksual? ‘Menjual’ tubuh perempuan demi melariskan dagangan. Itu adalah pelecehan terhadap harga diri dan kehormatan perempuan.

Perempuan cantik itu adalah yang tinggi langsing, berkulit putih mulus, berambut lurus tergerai. Tidakkah kita sadar, iklan itu menggiring kita untuk membelanjakan uang sebanyak mungkin membeli produk perawatan tubuh mereka, yang belum tentu itu sesuai dengan jenis kulit kita. Seremeh itukah nilai perempuan di mata dunia? Sementara siapapun tahu bahwa bentuk fisik adalah anugerah dari Sang Maha Pencipta yang tak mampu kita pilih sesuka kita.

Ada lagi produk pewangi pakaian. Di sana digambarkan, setelah menggunakan produk tersebut, sang perempuan berjalan menebar keharuman melewati sekumpulan lelaki. Dan dia terlihat sangat bangga dan sumringah ketika ada seorang lelaki mendekati dan membaui dekat dengan lehernya. Apakah sosok perempuan terhormat akan mengobral wangi pakaian dan tubuhnya di jalanan?

Kita akan semakin miris menyaksikan tubuh perempuan menjadi pemanis dan pelaris dalam pameran otomotif, ataupun sekedar menjual rokok dan minuman suplemen di jalanan. Dengan pakaian minim dan senyum menggoda para SPG berusaha menarik calon konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan. Meski untuk itu mereka rela mendapatkan godaan dan colekan melecehkan dari lelaki jahil.

Berapa Harga Perempuan?

Tanyakanlah hal itu pada para produsen. Berapa harga perempuan pemanis dalam iklan yang mereka produksi? Lalu takarlah dengan hati nurani, pantaskah itu didapatkan oleh perempuan yang hakikatnya menempati tempat mulia sebagai tiang negara?

Lalu tanyakanlah hal itu pada negara yang tak punya nyali untuk menjaga kehormatan perempuan-perempuannya. Berapa harga perempuan sehingga mereka tak sanggup melindungi kaum itu dari eksploitasi yang tak kunjung henti?

Tidakkah kaum perempuan menyadari betapa berharganya mereka. Sang Pencipta melindungi kecantikan tubuhnya dengan hijab. Agar tak sembarang orang menikmati meski hanya lewat tatapan matanya. Allah pun menjaganya dengan seperangkat aturan agar tubuh perempuan tak tersentuh sembarang tangan. Hanya lelaki yang berani bersumpah di hadapan Allah untuk menjaganya sepanjang hayat, dialah yang berhak atas tubuhnya.

Sosok perempuan juga begitu berarti bagi kehidupan ini. Dia sangat berharga bagi tegaknya sebuah peradaban negara. Allah Azza Wa Jalla menempatkan perempuan dalam kedudukan yang sangat mulia. Sebagai ibu ada surga di bawah kakinya. Dialah arsitek yag akan melahirkan generasi-generasi pemimpin dunia. Dan harga itu tak akan terbayar oleh jutaan dolar milik para pengusaha, karena Allah akan menganugerahi dengan kenikmatan surga.

Bebaskan Dari Belenggu!

Bisakah kaum perempuan bebas dari belenggu eksploitasi dunia periklanan serta  segala bentuk eksploitasi lainnya? Tentu bisa. Jika paradigma masyarakat kita ubah bersama-sama. Bahwa pada hakikatnya kebebasan berekspresi sebagai buah dari liberalisme (paham kebebasan) akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kenistaan.

Kreativitas beriklan sebenarnya bisa diasah tanpa harus melanggar norma-norma yang ada. Jika kita ingat di tahun 90-an ada sebuah iklan yang menonjolkan keindahan alam Indonesia tanpa embel-embel perempuan. Dan karya itu terpilih sebagai iklan terbaik selama beberapa periode.

Semakin taat para pekerja seni pada nilai agama, semakin kreatif pula ide-ide yang tertuang. Mereka bisa mengeksplor keindahan alam, atau menggunakan tema-tema abstrak, bahkan mengangkat isu-isu sosial kemasyarakatan.

Kita juga harus berjuang hancurkan kapitalisme. Sistem yang menjadikan uang dan kekayaan materi sebagai tuhan, sehingga kemolekan perempuan pun diperjualbelikan dengan dalih seni dan profesi. Sistem yang bersendikan sekularisme ini pula yang membuat kita jauh dari aturan Sang Pencipta dalam kehidupan, karena menganggap  Sang Pencipta tak layak mengatur aktivitas hidup bermasyarakat.

Dan satu-satunya yang akan mengembalikan perempuan dalam kedudukan mulianya adalah dengan penerapan aturan Ilahi dalam kehidupan. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang menerapkan aturan Islam kaffah karena dasar keimanan pada Allah. Institusi ini menjadi  junnah atau perisai bagi warganya, pelindung atas kehormatan, darah, nyawa serta harta mereka. Termasuk juga menjaga martabat perempuan sebagai mahluk terhormat.

Khilafah tak sedikitpun membiarkan perempuan menjadi objek eksploitasi meski dengan alasan apapun termasuk ekonomi. Dengan mekanisme teknis dan kebijakan yang terintegrasi, Khilafah menjamin kebutuhan rakyatnya terpenuhi dengan cara yang dihalalkan syari’at.

So, apalagi yang dicari perempuan jika dalam naungan Khilafah kehormatannya akan terjaga dan hidupnya akan sejahtera? (dimuat di http://www.duniaterkini.com/2015/01/bebaskan-perempuan-dari-iklan.html)

Rabu, 19 Februari 2014

Pojok GAOEL (teenagers ONLY) #1



CATATAN KEMATIAN
(by : akai ito)

Suatu hari abis ngenet berdua, nonton beberapa episode Death Note…
Iwa         : Teh, kan kalo shinigaminya Raito, Ryuuk ya, kalo Misa siapa nama shinigaminya?
Ito          : Siapa ya? Nggg… Miyuuk kali Wa. Pas masih idup nama aslinya Miyuki gitu. Hehehe.
Iwa         : Hehehehe… Bukan deh teh tapi kayaknya.
Ito          : (Sambil masih ketawa) Au’ ah Wa, lupa. Eh, ni yah, kalo nama shinigaminya Gufi siapa hayo?
Kita        : AHYUK!
#buat yang belom ngeh, coba sering-sering baca Album Donal Bebek deh.
++++++++++

Shinigami (God of Death) atau Dewa Kematian, istilah yang mulai akrab di perpustakaan pikiran seiring marak disebut dalam komik-komik Jepun (manga). Salah satu personil jajaran para Dewa dalam kepercayaan masyarakat Jepang. Kalo as muslim sih gak berlaku. Cukup kita tahu bahwa JALDIHAN, Ajal di Tangan Tuhan. Yang kita gak pernah tau, walaupun pengen banget tau itu KAJALDAT, Kapan Ajal Datang. Halah. Sedangkan yang udah kita tau banget itu petugas pencabut nyawa, so pasti Malaikat Izrail.

Kebetulan gue sempet baca manga Death Note vol.3, dimana Raito Yagami diawasi oleh kepolisian Jepang atas instruksi L. Berita itupun sampai ke dunia para shinigami. Seorang shinigami di akhirat (kalau nggak bisa dikatakan sebagai neraka atau yaa kamu bisa share-lah itu sebenernya di mana. Yang jelas  bukan di dunia) menghampiri teman-temannya sesama shinigami yang lagi ngumpul maen kartu, nanyain yang lagi terjadi di dunia manusia. Beuh, ada gitu di neraka masih bisa maen kartu??? Juga misal pas di klip endingnya anime Rurouni Kenshin (Samurai X) yang lagunya Bonnie Pink, “It’s Gonna Rain”, di situ digambarin tokoh jahatnya yang bernama Shishio Makoto masih bisa tersenyum di neraka dengan background tumpukan tengkorak sambil dipayungi oleh Ayumi, kekasihnya.

Atau seperti dalam novel KOYASAN yang menceritakan seorang anak perempuan bernama Koyasan yang sangat penakut. Tapi karena suatu peristiwa, ia malah akhirnya menjadi teman bagi para hantu. Pengarang novel tersebut menggambarkan bahwa kematian hanya sebuah jalan untuk pindah ke dunia abadi yang lebih menyenangkan. Gak ada perbedaan yang berarti dengan semasa hidup (kecuali jam main ya!).

Ya, itulah beberapa hal yang bisa dijajakan oleh para pemuja kebebasan, bahkan dalam karya-karya yang dihasilkan. Ini condong kepada pemikiran sekuler, di mana agama dipisahkan dari kehidupan. Bahwa kaum sekuler mempercayai Tuhan, iya. Tapi itu gak berarti kalo mereka sudi make aturan Tuhan dalam berkehidupan. Dan pemikiran semacam ini sudah banyak diadopsi juga oleh kaum muslim, termasuk dalam hal memandang kematian dan apa yang akan terjadi sesudahnya.

Hal ini tentu sangat berbahaya bagi orang yang bersangkutan maupun khalayak. Bayangkan, ketika manusia sudah tidak lagi takut dengan peringatan Allah SWT, maka ia akan condong pada perbuatan yang melanggar aturan. Padahal aturan berfungsi untuk memanusiakan manusia. Jika manusia gak mengindahkan aturan ini, sudah pasti kerusakan yang terjadi. Misal, interaksi dengan lawan jenis. Dalam Islam diatur bahwa antara laki-laki dan perempuan itu terpisah. Interaksi yang berlaku hanya yang urgent. Itupun dilarang hanya berdua, untuk perempuannya harus ditemani muhrim. Ini berdasarkan sabda Nabi saw yang mengatakan bahwa tidaklah bersama dua orang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kecuali yang ketiganya adalah setan. Nah, when this rule gak dipatuhi, interaksi dilakuin semaunya, maka gak heran yang terjadi adalah kerusakan moral. Dari individu, karena gak ada sanksi tegas dari para penegak hukum dan pemerintah, merebak ke masyarakat. Reputasi porn video maker pun disabet oleh para pelajar yang notabene masih seumur jagung. Arisan bukan lagi monopoli ibu-ibu, tapi pelajar lelaki dari Situbondo juga punya. Ah, bukan arisan panci, sprei atau peralatan rumah tangga… Tapi arisan pelacur!

Barangkali ini efek doktrin ampuh HIDUP CUMA SEKALI, JADI HARUS DINIKMATIN, yang pastinya dikampanyekan betul oleh sekuleris tulen. Baik lewat opini maupun praktek langsung. Demi menjaga hegemoni atas dunia dan kekayaannya. Taktik jitu untuk menumbangkan rival terberat setelah komunisme runtuh: ISLAM. Mantan PM Inggris, Gleed Stones pernah menyatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam. Kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Quran. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Quran dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan music lebih menghancurkan ummat Muhammad daripada seribu meriam. Maka tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”

Lihai sekali. Setelah berkali-kali berusaha memerangi umat Islam secara fisik tidak membuahkan kemenangan, pemikiran pun diserang. Memerosotkan pemahaman umat Islam terhadap agamanya, menjauhkannya dari benak-benak kaum Muslim, bahkan berusaha menghilangkan sama sekali Islam dari muka bumi. Itu sebabnya penerapan Peraturan Daerah yang bernuansa Islam banyak dicekal, dijegal untuk dilaksanakan. Melanggar hak asasi katanya. Ya, prostitusi dianggap hak asasi, nikah dini melanggar hak asasi. Yang haram, karena hak asasi, diperbolehkan. Yang halal karena dianggap melanggar hak asasi, jadi haram dilaksanakan. Wow, hebat betul manusia bisa bikin aturan sendiri dengan segala keterbatasannya melebihi Allah Swt.! Sugee… Hasilnya, after suasana keimanan udah menipis, bahkan sama sekali gak melingkupi umat Islam lagi, dengan mudah kehancuran menyerang.

Ya, hidup emang cuma sekali. Tapi bukankah yang sekali ini justru seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Bukan dimanfaatkan buat senang-senang, tapi buat ngumpulin bekal ke akhirat nanti. Karena sejatinya kematian adalah pintu gerbang menuju hari penghisaban, hari pembalasan. Sedangkan dunia cuma persinggahan, bukan tempat yang kekal abadi. Kalo mau ke neraka dengan sepaket siksa lengkap plus azab, ya sok atuh kumpulkan bekal dosanya. Kalo mau ke surga dengan segala kenikmatan di dalamnya, ya mari berbekal amal baik. Pilihan di tangan kita sendiri kok. Nggak kayak apa yang digembar-gemborkan kaum sekuler: muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Masuk surga gak gampang, coy! Mana ada keberhasilan or kesenangan yang bisa diraih dengan mudah? Yaa kecuali semu, sementara aja gitu.

Hmm… apa yang bisa kita syukuri adalah bahwa cahaya Islam terlalu terang untuk ditutupi oleh siapapun. Sehingga di tengah arus kebebasan yang super duper keblinger ini, masih ada beberapa gelintir manusia yang sadar akan kebenaran. Manusia –manusia yang menancap kuat keimanannya, yang sangat bisa jadi mudah mengalir air matanya sama seperti halnya generasi pendahulu kita, Umar ibn Khaththab, ketika melihat ukiran di cincin yang ia kenakan yang sengaja ia ukir: CUKUPLAH KEMATIAN SEBAGAI PERINGATAN BAGIMU, WAHAI UMAR! []

Jumat, 06 Desember 2013

CEKAL VIRUS PENGHUJUNG TAHUN




Gak lama lagi, akhir tahun akan menjelang. Biasanya kalo udah kayak gini, remaja kayak kita dikepung virus. Ah...iyalah, kan musim penghujan banyak virus penyakit. Eh, bukan yang itu..... virus yang akan kita bahas ini lebih dahsyat dari virus yang menyerang tubuh manusia. Virus apakah itu? Taraaaa... virus yang lebih membahayakan karena bisa menggerogoti akidah kita, yaitu virus perayaan Natal dan Tahun Baru.
Gak dipungkiri, masih banyak di antara kita yang terjangkiti virus itu. Dengan alasan toleransi  ikut mengucapkan selamat, menghadiri pestanya, memasang pohon natal, dan ikut berdandan a la santa. Coba deh, intip pusat perbelanjaan dan juga televisi yang menjadikan Natal sebagai tema penarik minat konsumen. Dua hal yang dekat dengan kehidupan remaja itu mulai terjangkiti virus penghujung tahun, bahkan sejak pergantian bulan November ke Desember!
Alah... nggak usah terlalu fanatik, deh! Masa’ kita gak boleh toleran sama teman yang merayakan?
Mungkin ada yang berpikiran demikian. Kan kita dah sepakat nih..., kalo Syari’at Islam itu standar perbuatan kita, maka makna ‘toleransi’-nya juga kudhu ngikut aturan Islam. Alloh SWT berfirman dalam QS.Al-Kafirun ayat  1-6 yang artinya :
Katakanlah ‘Hai orang-orang kafir’; Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; Dan aku tidak akan  menjadi penyembah apa yang kamu sembah; dan kamu tidak menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Nah... untuk segala hal yang berhubungan dengan ibadah, keyakinan dan ritualitas keagamaan, kita gak boleh ikut campur. Singkat kata : Lu = lu, gue= gue. Dan perayaan Natal itu terkait keyakinan dan ritualitas keagamaan. Perayaan Natal, memiliki makna ‘Memperingati dan menghayati kelahiran Yesus Kristus’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas terbitan Balai Pustaka). Menurut orang-orang nasrani, Yesus (dalam Islam disebut dengan ‘Isa) dianggap sebagai anak Tuhan. Beda banget dengan syariat Islam yang mengimani bahwa Nabi ‘Isa AS bukanlah anak Tuhan, melainkan salah satu nabi dari nabi-nabi Alloh. So, kita sebagai muslim gak boleh ikut-ikutan di dalamnya, termasuk ngucapin selamat dan hadir dalam pestanya.
Lha itu kalo Natal. Gimana dengan perayaan tahun baru masehi? Tau nggak sih, teman-teman... sejarah tahun baru masehi erat kaitannya dengan tradisi paganisme (penyembahan berhala). Ini sejarahnya : Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke-46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu - See more at: http://www.voa-islam.com/read/christology/2012/12/31/22574/#sthash.xL3pmQrg.dpuf
Nah...gak jauh beda dengan perayaan Natal, tradisi tahun baru Masehi bukanlah milik kita, kaum Muslim. Jadi nggak layak dan nggak perlu, bahkan bahaya bagi aqidah dan keimanan kalo kita nekat merayakannya. Rasulullah SAW pernah bersabda,
Barangsiapa yang menyerupai suau kaum, maka dia adalah bagian dari mereka (kaum tersebut”(HR.Ahmad dan Abu Dawud)
            Be carefull yaaa... antisipasi virus di penghujung tahun, siapkan jurus penolakan dengan bijak. InsyaaAlloh kalo cara kita baik, dan kita tunjukkan ketegasan maka tidak susah untuk menolaknya.
***
Pondok Melati, 06-12-2013