Tampilkan postingan dengan label one day in my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label one day in my life. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 April 2017

Kotak Yang Dinantikan

Kok tiba-tiba jadi ingat masa kecil, ya? Saat Mama pulang arisan atau pengajian, saya dan kakak-kakak dengan girang menyambutnya. Menyambut Mama? Aha.... sebenarnya kami sibuk menyambut buah tangannya, ya.... sebuah kotak snack. 


Tak jarang kami berebut meraih kotak itu, berebut membuka dan mengincar jajan kegemaran. Yang terlambat, terpaksa rela mendapatkan jajan yang tertinggal di kotak. Kalau tak suka? Ahaha... menangis lah senjata andalannya.

Tapi Mama selalu punya cara ampuh agar semua anaknya bahagia. Beliau ambil pisau dan memotong semua jajan menjadi dua, atau...jika kami berempat mengincar jajan yang sama, dipotonglah jajan itu menjadi empat. Kecil memang, tapi ada rasa puas di sana.

Ahh... rupanya kebiasaan menanti kotak snack menjadi turun-temurun. Saya rasa setiap anak di dunia pasti memiliki kebiasaan itu, Anda juga kah? Jangan-jangan.... saat inipun kita masih suka begitu, antusias menyambut kepulangan suami dari pengajian warga dan berharap kotak snacknya :D

Keempat puteriku selalu antusias menyambut kepulangan Mbah Uti dari pertemuan apapun, dan mata mereka sibuk mengamati tangan Mbah Uti yang membuka tas tangan hingga keluarlah kotak yang dinanti.

Mata mereka berbinar, ada sensasi penasaran dan kebahagiaan di sana. Meski toh akhirnya mereka tak mendapat jajanan yang disukai, namun tak pernah jera menanti kotak itu. 

Benar juga, bahagia itu sederhana, ya! 

Jumat, 28 Oktober 2016

Ngeblog, Buat Apaaaa?

Kapan tepatnya Saya mulai ngeblog? Waduh.... lupa. Yang jelas, Saya mulai kenal dunia blog setelah join di fesbuk. Hampir seumuran sama putri ketiga saya, 6 tahun lah...

Saya kenal blog dari grup Ibu-ibu Doyan Nulis. Saat itu para member dibimbing untuk memiliki blog, kami saling membantu, berjibaku menciptakan 'rumah' bagi tulisan kami sendiri. Dan.... taraaa, jadilah blog sederhana ini.

Sekian lama memiliki blog, namun belum juga bisa mengoptimalkan keberadaannya. Kadang muncul tanya, ngapain ngeblog?

Ternyata.... dengan ngeblog kita bisa meraup penghasilan. Bukan hanya Rupiah, namun juga dolarrrr ! Apalagi jika bisa meng-endorse suatu produk.

Bagi para pengemban dakwah, khususnya para pejuang pena, blog juga dapat dijadikan wadah dakwah. Dan ada, lho..... trik agar thread kita bisa muncul di mbah google.

Melalui ngeblog, wawasan dan pertemanan kita makin luas, bahkan mendunia! Dan aktivitas mengotak-atik blog ternyata seru juga (sebenarnya) :D

Namun saat ini, bagi Saya, yang terpenting adalah bagaimana bisa blog ini menjadi amal jariyyah. Nyadar diri, amal baiknya masih seuprit T_T

So, apa the most purpose-mu dengan nge-blog?



Senin, 01 Juni 2015

Setiap Kehamilan dan Persalinan Adalah Istimewa



Untuk keempat kalinya Allah menganugerahi kehamilan padaku. InsyaaAllah tak lama lagi aku pun akan mengalami persalinan keempat. Apa yang kurasakan dan kualami? Ternyata setiap prosesnya punya keistimewaan masing-masing, ada ceritanya masing-masing. Menurut orang, hamil dan melahirkan yang pertama itu selalu lebih berat dari yang selanjutnya, semakin berbilang jumlahnya semakin mudah. Tapi ternyata tidak selamanya begitu.

Ketika hamil anak pertama, o...oh ternyata begini rasanya mengandung janin. Mual-muntah saat trimester pertama, makan tak enak... mau ngapa-ngapain juga tak nyaman. Mupeng makan bakso yang lewat depan rumah, setelah enak-enak makan ehhhh....muntah. Ketika sedang terbaring di tempat tidur dengan tangan sibuk menutupi hidung dari serbuan bau goreng-gorengan, tercetuslah dari bibirku, "Ternyata, hamil itu a beautifull pain, ya...".

Persalinan pertama pun punya cerita tersendiri. Karena selama hamil aku hobi membaca berbagai buku dan majalah seputar itu, seperti Nakita dan Ayah-Bunda (gpp sebut merk, ya... siapa tahu redaksinya ada yang nyasar ke mari, hehehe), jadi sedikit banyak tahu informasi ciri-ciri 'sudah waktunya melahirkan'. Berbeda dengan para ibu yang biasanya melahirkan diawali dengan kontraksi, waktu menjelang persalinanku diawali dengan 'ngompol' menjelang adzan Subuh. Yaaa... pecah ketuban sehingga mengeluarkan cairan seperti air seni namun baunya amis dan kalau dipegang juga beda teksturnya.

Sesampainya di Rumah Bersalin, bidan menyuruhku tiduran. "Haa? Kok tiduran, Bu? Bukannya biar lancar harus banyak jalan-jalan?" Tanya suamiku polos. "Yee, Bapak ini. Kalau jalan-jalan nanti air ketubannya keluar terus... habis nanti. Kalau nggak pecah ketuban mah saya suruh istri Bapak jalan-jalan sekaligus ngepel ruangan di sini, atuh!" Kurang lebih seperti itulah bantahan bu bidan. Aku cengar-cengir mendengarnya.

Tak lama setelah berbaring, barulah aku merasakan dahsyatnya kontraksi. Innalillahi... sakitnya bukan kepalang. Miring kanan, miring kiri, melungker... perut serasa diperas. Jauh lebih sakit dari mules gegara kebanyakan makan cabe. Mana pake acara si jabang bayi tertidur pulas lagi... sehingga aku harus dipasangi tabung oksigen untuk menjaga agar denyut jantungnya stabil (entahlah... aku tak terlalu faham. Yang aku tahu, perutku sakiiitt...). Tapi Alhamdulillah, pangeranku bersabar menemani sambil mengelus-elus punggungku. Mama-Papa juga menguatkanku dari jauh melalui telepon (bukan dengan telepati lho ya...), sedangkan mertua sedang OTW ke Rumah Bersalin.

Hampir 12 jam -batas waktu toleransi kelahiran setelah pecah ketuban- berlalu, bu dokter yang cuantiknya kayak artis itu sudah wanti-wanti untuk operasi jika lewat waktunya sang bayi belum nongol juga. Allahu Akbar, bayi yang kami nantikan berhasil keluar dengan sehat dan selamat.

Nah... itu cerita pertama. Sekarang giliran yang kedua...

Ceritanya, kehamilan kedua ini sungguh tak disangka-sangka oleh kami. Karena saat itu sedang fokus dengan si sulung yang memang kami nantikan selama 4 tahun pernikahan. Terus terang awalnya sempat syok juga, kasian si sulung yang baru berusia 6 bulan... khawatir tidak penuh mendapatkan kasih sayang, pikir kami. 

Dan saat itulah Allah benar-benar menguji kami. Ketika pemeriksaan USG, dokter mendiagnosa janin mengalami 'blighted ovum' (janinnya tidak berkembang). Namun dokter yang cuantik banget kayak artis itu meminta kami menunggu perkembangannya hingga bulan depan sebelum memutuskan untuk kuretase. Selama itu aku minum vitamin penguat kandungan. Pesan dokter, jika sampe mengeluarkan darah, itu artinya keguguran dan harus dikuret.

Selama masa penantian itu aku dihantui kecemasan. Bayangan akan dikuret menghantuiku. Konon katanya jauh lebih sakit daripada melahirkan, dan... taruhan nyawa juga. Sampai-sampai aku pernah menuliskan beberapa kata-kata wasiat di note HP-ku, jika ternyata benar aku meninggal karena hal ini. Di saat itu aku tersadar, aku kurang ikhlas menjalani kehamilan ini. Astaghfirullah... akupun mohon ampun dari Allah.

Alhamdulillah, setelah sebulan berlalu dokter menyatakan kehamilanku sehat, janinku berkembang dengan baik. Selama kehamilan kedua ini aku tak terlalu mengalami mual-muntah, sehat-sehat saja. Janin pun tak 'rewel' sehingga tetap bisa diajak mengurus rumah dan kakaknya. Barangkali karena jarak kehamilan yang tak jauh, jadi tubuh mudah beradaptasi dengan perubahan hormon. Sekali lagi... barangkali.

Kelahiran bayi keduaku ini cukup memakan waktu, tenaga, biaya, dan korban perasaan juga. Karena saat itu kami memutuskan melahirkan di tengah-tengah keluarga besarku, meninggalkan suami tercinta. Saat itu aku cukup kerepotan karena si sulung sudah mulai belajar berjalan dan kami tak punya pembantu.

Di kota itulah aku bertemu bu bidan sholihah yang menyenangkan, Bu bidan Siti Nurbaya. Semoga Allah membalas segala kebaikannya..... hiks, terharu.

Cerita persalinan keduaku penuh rekayasa, hihihi... alias direncanakan karena Babehnya bayi harus sudah kembali ke Jakarta untuk urusan pekerjaan hari Ahad. Akhirnya Bu Bidan mengabulkan permintaan kami untuk melakukan induksi, toh sang janin memang sudah 'matang kata Beliau. Waktu itu hanya beda 2-3 hari dari HPL.

Metode induksi yang digunakan adalah melalui tablet yang harus diletakkan di bawah lidah selama beberapa jam. Menurut perhitungan Bu Bidan, jika dimulai pukul 9 pagi maka reaksi baru akan terjadi pada pukul lima sore, saat Beliau sudah pulang dinas. Namun Qodarullah..., baru pukul sebelas reaksi pun terjadi. Aku mengalami pendarahan, namun ketika konsul via telepon menurut Beliau masih dalam skala wajar. Lalu setengah jam kemudian mulai terjadi kontraksi, hingga jam 12 akupun tak  tahan. Kami memaksa untuk menunggu di rumah bu bidan, dan Beliau mengizinkan. Saat itu aku ditemani Mama, suami, dan Budhe yang seorang pensiunan bidan.

Subhanallah... kalau tahu rasa sakit persalinan yang diinduksi, aku  tak akan pernah mau mengalaminya kecuali terpaksa. Jeda kontraksi berlangsung lebih cepat dan sakitnya dua kali lipat. Keluhan sempat terlontar dari bibirku, namun Bu Bidan menenangkanku. Entah pada pembukaan ke berapa ketubanku baru pecah.

Sekitar pukul 3 sore bayi  mungil nan cantik pun lahir ke dunia. Sirna rasa sakitku memandangnya... MasyaaAllah.

Bagaimana dengan yang ketiga? aha... ikuti kelanjutannya nanti ^^

Kamis, 18 Desember 2014

Seorang Anak Dan Ayah PNS



Lelaki senja itu hanya terdiam melihat anak perempuannya mempermasalahkan kehadiran lampu hias di ruang tamu. Barangkali Ia menyadari sang anak baru saja beranjak dewasa dan masih unyu dalam mengkaji Islam, sehingga berlebihan dalam menyikapi hidup. Dan kali ini yang dipersoalkan adalah ‘hidup sederhana’, anaknya menuduh pembelian lampu itu hanya bentuk pemborosan...ehm, bahkan sebenarnya inti yang dipersoalkan anaknya adalah status PNS yang disandang sang ayah sebagai pekerjaan ‘abu-abu’ yang dekat dengan uang haram.

Seiring berjalannya waktu, bertambah pula pemahaman sang anak bahwa PNS bukanlah status yang terlarang dalam Islam, menjadi PNS bukanlah jarimah, namun hanyalah sebuah jalan menggapai rizki. Yah...meskipun ada oknum-oknum yang berbuat KKN namun tak adil jika digeneralisir. 

Dia berusaha mengulas kembali perjalanan hidup ayahanda tercinta sebagai seorang PNS. Sang ayah adalah pekerja yang jujur dan berdedikasi tinggi. Sebagai atasan beliau disukai karena sikap tak berjarak-nya, sebagai bawahan Beliau disayangi karena kinerjanya.

Namun begitulah, tak selamanya orang baik disenangi. Pernah Beliau difitnah teman dekatnya, hingga akhirnya dimutasi ke tempat lain dan tidak digaji selama beberapa bulan. Bagaimana dengan anak-istrinya? Mereka makan dari uang tabungan dan hasil penjualan mobil pribadi. Dan Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun Allah membuka mata semuanya tentang siapa pelaku kejahatan yang sebenarnya dan nama baik sang ayah dipulihkan. Tentang gaji yang tak dibayarkan? Entahlah...sang anak tak pernah bertanya masalah itu pada Ibunya, toh Allah tetap memberi kecukupan rizki selama masa fitnah itu.

Di akhir karirnya sang ayah dipindah ke ibukota sebagai kepala seksi (alias kepala bagian). Di tempat ini ujian dan godaan banyak bersliweran menyapa Sang Ayah dan Ibu. Mulai dari rumah yang awalnya masih mengontrak karena Beliau menyadari keberadaan di ibukota hanya sementara, toh Beliau sudah punya rumah di kampung halaman. Mobil pribadi yang tak semewah mobil karyawannya (asal tahu aja, mobil Sang Ayah hanya carry super sementara karyawannya punya mobil sedan sport mewah). Lalu teman sejawat Sang Ayah banyak yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri sementara anak-anak beliau ‘hanya’ kuliah di dalam negeri.

Belum lagi penampilan Ibu yang sederhana karena tak hobi ‘nyalon’ sehingga seorang kurir pernah menyangka Beliau adalah PRT (duh...). Tapi Ibu tetap pede, ikut pertemuan dharma wanita meski tak menenteng tas bermerk dan perhiasan mewah.

Ujian bagi keduanya juga datang tatkala anak lelakinya lulus kuliah. Di saat suatu ‘kewajaran’ jika Sang Ayah yang punya kedudukan menitipkan anaknya di kantor atau perusahaan relasi, Beliau tak sedikitpun melakukannya. Beliau mempersilahkan anak-anaknya mencari jalan rizkinya sendiri dengan jujur dan halal.

Ketika untuk ketiga kalinya Sang Ayah dan Ibu menunaikan ibadah haji. Pandangan miringpun ada yang menyapa. Tak tahulah mereka, dana itu adalah hasil penjualan tanah warisan hak Ibu serta tanah yang Beliau beli dari uang tabungan bertahun-tahun hasil keringat yang jujur.

Di awal masa pensiun Sang Ayah, datanglah tawaran untuk menjadi konsultan, namun Beliau menolak meski bayangan kucuran rupiah menggiurkan. Karena Beliau tahu di situ ladang ‘permainan’ dan enggan terjerumus.

Ah, Ayah... Air mata Sang Anak menetes kembali. Mengingat dosa-dosa pada SAng Ayah, setumpuk su’udzon tanpa sedikitpun sempat meminta maaf sebelum ajal menjemput lelaki senja itu. Dia berharap do’a-do’anya mampu melebur rasa bersalah. Allahumaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu ‘anhu




Sabtu, 21 September 2013

titik balik (1)

Seorang gadis belia, memasuki momen penting dalam hidupnya. Dia menjadi seorang mahasiswi di sebuah PTN yang jauh dari kota tempat tinggalnya.

Bukan, bukan status mahasiswa-lah yang membuatnya berbunga-bunga, tapi...hidup jauh dari orangtua-lah yang membahagiakan dirinya. Ya, jiwa muda yang menggelegak di dadanya membuat sumpek dengan segala aturan rumah yang seakan-akan mengekang kebebasannya. Dengan berjauhan dari orang tua, maka dia bebas melakukan apapun yang dia suka.

Bukan... sebenarnya gadis ini bukan cewek liar tukang keluyuran. Dia anak baik-baik yang tidak suka berdiam diri di rumah, dia suka berorganisasi dan aktif dalam berbagai kepanitiaan. Itulah yang membuatnya sering keluar rumah, dan orang tuanya sering berkeberatan dengan segala aktivitasnya.

Kini saatnya bagi si gadis membuktikan bahwa dia sanggup menjaga diri dan kehormatan dengan segala kesibukan di dunia barunya. Terbayang di benaknya bahwa kelak dia akan menjadi seorang aktivis kampus.

Tak punya kakak kelas alumnus SMAnya di kampus baru itu, si gadis tak berkecil hati. Berbekal keyakinan, dia dekati stand lembaga dakwah kampus untuk mencari info rumah kost. akhirnya dia memperolah rumah tumpangan sementara... lumayan lah sambil mencari-cari kost yang kosong selama masa orientasi.

Si gadis bertekad mengikuti setiap kegiatan kampus dengan penuh semangat, termasuk malam keakraban. Bersama beberapa orang temannya dia nekat pergi malam itu, meski kampus cukup dekat dari rumah tumpangan, tak urung dia 'keder' juga keluar malam-malam, aah...demi pengalaman biar sajalah...pikirnya.

Setelah asyik menikmati lantunan 'Foolish Game' dari seniornya, si gadis terhenyak melihat kakak dari rumah tumpangannya datang. Tanpa basa-basi sang kakak A menghampiri panitia makrab, dan menasehatinya panjang lebar. Sedikit kata yang bisa dia tangkap dari lisan akhwat berjilbab lebar itu, "Kalau adik-adik kita ini pulang malam, dan terjadi apa-apa dengan mereka, memangnya Anda mau tanggung jawab?", panitia hanya bisa diam. lalu si gadis diajak pulang oleh Kakak A.

Ada rasa berkecamuk di dada gadis, protes terhadap sikap Kakak A yang 'bawel', namun di sisi lain kagum pada keberaniannya, dan juga merasa beruntung ada teman pulang.

Di rumah tumpangan itu Dia mendapat banyak pengalaman berharga. Ikhlas itu rela meminjamkan gamis terbaik dan mau mencucinya saat yang meminjam tidak sempat mencucinya (meski telah merendamnya semalaman), ukhuwah itu... mau membantu temannya yang kerepotan mengerjakan tugas ospek meski dia sendiri belum menyelesaikan tugasnya.

Dia juga belajar bertanggungjawab atas pekerjaan rumah yang selama ini tak pernah dihandle-nya. Menyapu, mengepel pagi-pagi sebelum berangkat ke kampus, menyiapkan air minum untuk teman serumah.

HIngga akhirnya dia pergi dari rumah itu karena sudah menemukan tempat kost. Namun hatinya tak bisa pergi begitu saja. Sepekan sekali dia mengkaji ilmu Islam di sana, bhkan tak jarang menginap karena kemalaman atau asyik mengobrol dengan teman seangkatan.

Sabtu, 13 Juli 2013

Mom and Khilafah

Muktamar Khilafah tlah berlalu, berakhir pada tanggal 02 Juni 2013 di Jakarta. Di hati ini bercampur rasa  lega karena acara berlangsung lancar tanpa hambatan berarti, dan penuh harap bahwa ummat akan semakin dekat dengan syari'ah dan merindukan Khilafah.

Sebagian besar peserta wanita adalah ibu-ibu, meski demikian masih cukup banyak para ibu yang belum mengenal Khilafah. Bahkan seorang ibu jamaah MT yang saya ajak bercerita seru tentang keluguannya saat mengikuti seruan "Muslim Turiid Khilafah Islamiyyah", yaa...dia merasa itu sesuatu yang lucu karena asing di telinganya. Tak apa-apa... semoga momen itu memacu semangatnya untuk semakin mengenal dan bahkan menjadi salah seorang pejuangnya.

Mari Ibu-ibu, kita kenali KHILAFAH lebih dekat...  

yuk kita mulai dulu dari : Apa itu Khilafah? kan judulnya Muktamar Khilafah tuh... Khilafah adalah kepemimpinan umum yang menerapkan aturan Alloh (baca : syari'at Islam) secara sempurna untuk seluruh kaum muslimin dan bertanggungjawab menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia.

Apa bisa kaum muslimin di seluruh dunia dipersatukan? kan kita terpencar-pencar nih... ada yang di Indonesia, Malaysia, Amerika, Mesir, dll. -->> ya bisa... karena sudah ada buktinya, sudah pernah terjadi sejak didirikannya Negara Islam di Madinah oleh Rasulullah SAW, dilanjutkan oleh kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, lalu para khaliffah yang banyak hingga runtuhnya pada tahun 1924. Khilafah menaungi hampir 2/3 belahan dunia, bahkan yang jadi warganya bukan hanya muslim, tapi juga non muslim yang dijamin hak-haknya oleh Khalifah.

Imam Qarafi, seorang ulama salaf merangkum tanggung jawab Khalifah terhadap kaum dzimmi: “Adalah kewajiban seluruh kaum Muslim terhadap orang-orang dzimmi untuk melindungi mereka yang lemah, memenuhi kebutuhan mereka yang miskin, memberi makan yang lapar, memberikan pakaian, menegur mereka dengan santun, dan bahkan menoleransi kesalahan mereka bahkan jika itu berasal dari tetangganya, walaupun tangan kaum Muslim sebetulnya berada di atas (karena faktanya itu adalah Negara Islam). Kaum Muslim juga harus menasehati mereka dalam urusannya dan melindungi mereka dari ancaman siapa saja yang berupaya menyakiti mereka atau keluarganya, mencuri harta kekayaannya, atau melanggar hak-haknya.” (http://hizbut-tahrir.or.id/2010/11/18/apa-itu-khilafah/

Lalu apa pentingnya buat kita yang udah ibu-ibu ini?  yaaa...penting sekali. Saya yakin ibu-ibu ingat akan ayat Alloh Subhanahu wata'ala :


"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu."
(Qs. al-Baqarah 2:208)
 

mau itu ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek sekalipun, selama dia muslim maka ia berkewajiban untuk berislam secara menyeluruh. melaksanakan ketaatan kepada Alloh dalam seluruh kehidupannya, gak cuma ibadah ritual aja. Tapi cara berpakaian, bermasyarakat, berekonomi (nabung, jual-beli), berpendidikan (mendidik anak, nyari sekolah buat anak, dll), bernegara (gimana cara ngatur negara) juga kudhu terikat dengan aturan Alloh.

Nah...tanpa adanya Khilafah kita ga bisa kaffah dalam berislam. Ya...kita bisa rasakan susahnya mendidik anak, sudah dididik bener-bener untuk jadi anak sholeh di rumah, eeh...tontonan di teve masih saja mengumbar pornografi dan kekerasan. Mau protes ke mana? KPI? Menkominfo? semua pihak saling lempar tanggungjawab.

Apalagi kalo bicara soal pendidikan formal. Anak bangsa dijadikan kelinci percobaan dari kurikulum yang berganti-ganti dan ujian yang tak jelas ujung-pangkalnya. Sementara tujuan dari sekolah juga semakin tak jelas (katanya sih...membentuk manusia yang ber-imtaq dan iptek...). Biaya mahal, rakyat miskin semakin susah menjadi pintar. Seakan-akan pendidikan itu bukanlah kebutuhan vital, melainkan prestise semata :(

Trus urusan dapur, ternyata nyambung juga lho, Bu... dengan Khilafah. Setiap menjelang Ramadhan dan lebaran, harga sembako dan berbagai bahan makanan melambung tinggi, setelah sebelumnya kita dibikin kelenger dengan naiknya harga BBM. Hal ini karena kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak Islami... tidak pro ibu-ibu..., jadi mana peduli kalo keputusan yang dibuat itu menyenangkan ato malah nyusahin dapur kita :(

Soal rasa aman? siapa sih bu, yang ga pengen bisa keluyuran eh...maksudnya keluar rumah tanpa rasa was-was? kalo sekarang kan, setiap kita pergi yang ada di benak kita, gimana nanti di jalan PLUS gimana dengan keamanan barang-barang yang ditinggalkan? karena kriminalitas yang sudah sedemikian membudaya membuat kita jadi serba takut, istilah kerennya PARNO.

Pendek kata, sistem aturan saat ini membuat negara abai akan nasib rakyatnya. Slogan-slogan yang menggambarkan hal ini sudah sangat banyak, seperti "orang miskin dilarang sekolah", "orang miskin dilarang sakit", "kalo ga bisa beli bensin ya jalan kaki aja", wah...kalo dilanjutkan bisa jadi "kalo ga bisa beli makanan yaa...mati aja"

Karena apa ibu-ibu? semua ini karena aturan yang dipake bukanlah aturan yang sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia... aturan yang dipake bukan dari Alloh yang menciptakan kita. Ibaratnya kita mau ngoperasiin blender pake buku panduan mesin cuci... wadow, ga nyambung jek :D

Dengan bekal keimanan kita kepada Alloh, keyakinan bahwa Alloh adalah Dzat yang paling memahami hakikat manusia... maka sudah sepatutnyalah kita relakan diri untuk diatur dengan syari'at-Nya, yaitu dengan syari'at Islam. Dan Islam punya satu sistem yang khas sebagai pelaksana syari'at Alloh, yaitu sistem Khilafah..., bukan dengan kerajaan atau republik atau negara serikat atau demokrasi, begitcuuu :)

wallahu a'lam...

Monggo bu-ibu, barangkali ada yang mau sharing pendapat? asal disampaikan dengan cara yang sopan dan kata-kata yang baik, yhaaa^^



Senin, 20 Mei 2013

Sandal Baru dari Suami

Sepulang dari pasar siang itu, suamiku senyam-senyum sambil menyodorkan bungkusan plastik berwarna hitam. Kuraih plastik itu sambil bertanya-tanya, wow...sepasang sandal 'crocs' warna merah hati (jangan lupa...ada tanda kutipnya lhooo). Anak-anak yang sudah memegang sandal senada langsung heboh..."Wah...sandal ummi warnanya merah!" Kuhadiahi suamiku dengan senyum terindah dan ucapan terimakasih.

Lantas aku teringat komentar teman-temanku keesokan harinya, mereka sibuk menggodaku setelah mendengar cerita si sulung tentang sandal itu. "Mi...Mi! Bu Maya dikasih sandal sama suaminya, lho..." teriak temanku pada y lain.


Hmm... sandal, hanya sepasang sandal 'crocs' (kuingatkan lagi, ada tanda kutipnya). Berapa sih harganya? Memang jika dilihat harganya, barang itu tak seberapa. bahkan aku sempat heran, kenapa teman-temanku pada heboh, toh itu hanya sepasang sandal yang tidak bernilai secara rupiah, Oh ya...beberapa bulan sebelumnya temanku mengeluh karena suaminya tak pernah memberi hadiah apa-apa, meskipun hanya sepasang sandal. Ternyata ada makna terdalam di sana, sandal itu HADIAH dari suamiku. Tak banyak suami seperti dia, yang masih ingat membelikan sandal buat sang istri saat berbelanja di pasar.


Subhanalloh... yang membuat sandal itu berarti adalah, karena itu pemberian suamiku, karena itu wujud perhatian dan kasih sayang seseorang kepada belahan jiwanya.

Pelajaran lain yang kudapat saat itu :

Banyak istri yang tidak dapat menghargai pemberian suaminya, entah itu karena tidak sesuai selera atau merasa tidak membutuhkan barang tersebut. sehingga, jangankan tersenyum... yang ada dia malah pasang tampang cemberut dan parahnya bisa sampai mengeluarkan komentar yang tidak menyenangkan. Haduhhh... Kasihan sang suami yang telah berniat baik untuk memberi kejutan bagi orang yang dicintainya. alih-alih mempererat hubungan, yang ada malah sang suami tersinggung dan pecah perang dunia ketiga :(







Jadi ingat ceramah (alm) KH.Zainudin MZ, salah satu bohong yang dianjurkan adalah bohongnya istri/suami untuk menyenangkan hati pasangannya. Yupz, betul banget...
bayangkan jika kita dalam posisi sang suami, sudah capek-capek mencarikan hadiah untuk kita, bahkan mungkin beliau harus merogoh koceknya lebih dalam untuk menyenangkan hati istrinya. Eeh... bukannya diterima dengan baik, malah diomelin... SUNGGUH TERLALU.

So, sebelum kita sibuk koar-koar berempati terhadap orang lain, sebaiknya kita juga belajar untuk lebih berempati terhadap suami kita. Wallahu a'lam


nb : image-nya hanya sebagai pendukung cerita, bukan foto asli dari sandalku itu :)