Untuk keempat kalinya Allah menganugerahi kehamilan
padaku. InsyaaAllah tak lama lagi aku pun akan mengalami persalinan
keempat. Apa yang kurasakan dan kualami? Ternyata setiap prosesnya punya
keistimewaan masing-masing, ada ceritanya masing-masing. Menurut orang,
hamil dan melahirkan yang pertama itu selalu lebih berat dari yang
selanjutnya, semakin berbilang jumlahnya semakin mudah. Tapi ternyata
tidak selamanya begitu.
Ketika hamil anak pertama, o...oh
ternyata begini rasanya mengandung janin. Mual-muntah saat trimester
pertama, makan tak enak... mau ngapa-ngapain juga tak nyaman. Mupeng
makan bakso yang lewat depan rumah, setelah enak-enak makan
ehhhh....muntah. Ketika sedang terbaring di tempat tidur dengan tangan
sibuk menutupi hidung dari serbuan bau goreng-gorengan, tercetuslah dari
bibirku, "Ternyata, hamil itu a beautifull pain, ya...".
Persalinan
pertama pun punya cerita tersendiri. Karena selama hamil aku hobi
membaca berbagai buku dan majalah seputar itu, seperti Nakita dan
Ayah-Bunda (gpp sebut merk, ya... siapa tahu redaksinya ada yang nyasar
ke mari, hehehe), jadi sedikit banyak tahu informasi ciri-ciri 'sudah
waktunya melahirkan'. Berbeda dengan para ibu yang biasanya melahirkan
diawali dengan kontraksi, waktu menjelang persalinanku diawali dengan
'ngompol' menjelang adzan Subuh. Yaaa... pecah ketuban sehingga
mengeluarkan cairan seperti air seni namun baunya amis dan kalau
dipegang juga beda teksturnya.
Sesampainya di Rumah
Bersalin, bidan menyuruhku tiduran. "Haa? Kok tiduran, Bu? Bukannya biar
lancar harus banyak jalan-jalan?" Tanya suamiku polos. "Yee, Bapak ini.
Kalau jalan-jalan nanti air ketubannya keluar terus... habis nanti.
Kalau nggak pecah ketuban mah saya suruh istri Bapak jalan-jalan
sekaligus ngepel ruangan di sini, atuh!" Kurang lebih seperti itulah
bantahan bu bidan. Aku cengar-cengir mendengarnya.
Tak
lama setelah berbaring, barulah aku merasakan dahsyatnya kontraksi.
Innalillahi... sakitnya bukan kepalang. Miring kanan, miring kiri,
melungker... perut serasa diperas. Jauh lebih sakit dari mules gegara
kebanyakan makan cabe. Mana pake acara si jabang bayi tertidur pulas
lagi... sehingga aku harus dipasangi tabung oksigen untuk menjaga agar
denyut jantungnya stabil (entahlah... aku tak terlalu faham. Yang aku
tahu, perutku sakiiitt...). Tapi Alhamdulillah, pangeranku bersabar
menemani sambil mengelus-elus punggungku. Mama-Papa juga menguatkanku
dari jauh melalui telepon (bukan dengan telepati lho ya...), sedangkan
mertua sedang OTW ke Rumah Bersalin.
Hampir 12 jam -batas
waktu toleransi kelahiran setelah pecah ketuban- berlalu, bu dokter yang
cuantiknya kayak artis itu sudah wanti-wanti untuk operasi jika lewat
waktunya sang bayi belum nongol juga. Allahu Akbar, bayi yang kami
nantikan berhasil keluar dengan sehat dan selamat.
Nah... itu cerita pertama. Sekarang giliran yang kedua...
Ceritanya,
kehamilan kedua ini sungguh tak disangka-sangka oleh kami. Karena saat
itu sedang fokus dengan si sulung yang memang kami nantikan selama 4
tahun pernikahan. Terus terang awalnya sempat syok juga, kasian si
sulung yang baru berusia 6 bulan... khawatir tidak penuh mendapatkan
kasih sayang, pikir kami.
Dan
saat itulah Allah benar-benar menguji kami. Ketika pemeriksaan USG,
dokter mendiagnosa janin mengalami 'blighted ovum' (janinnya tidak
berkembang). Namun dokter yang cuantik banget kayak artis itu meminta
kami menunggu perkembangannya hingga bulan depan sebelum memutuskan
untuk kuretase. Selama itu aku minum vitamin penguat kandungan. Pesan
dokter, jika sampe mengeluarkan darah, itu artinya keguguran dan harus
dikuret.
Selama masa penantian itu aku dihantui kecemasan.
Bayangan akan dikuret menghantuiku. Konon katanya jauh lebih sakit
daripada melahirkan, dan... taruhan nyawa juga. Sampai-sampai aku pernah
menuliskan beberapa kata-kata wasiat di note HP-ku, jika ternyata benar
aku meninggal karena hal ini. Di saat itu aku tersadar, aku kurang
ikhlas menjalani kehamilan ini. Astaghfirullah... akupun mohon ampun
dari Allah.
Alhamdulillah, setelah sebulan berlalu dokter
menyatakan kehamilanku sehat, janinku berkembang dengan baik. Selama
kehamilan kedua ini aku tak terlalu mengalami mual-muntah, sehat-sehat
saja. Janin pun tak 'rewel' sehingga tetap bisa diajak mengurus rumah
dan kakaknya. Barangkali karena jarak kehamilan yang tak jauh, jadi
tubuh mudah beradaptasi dengan perubahan hormon. Sekali lagi...
barangkali.
Kelahiran bayi keduaku ini cukup memakan
waktu, tenaga, biaya, dan korban perasaan juga. Karena saat itu kami
memutuskan melahirkan di tengah-tengah keluarga besarku, meninggalkan
suami tercinta. Saat itu aku cukup kerepotan karena si sulung sudah
mulai belajar berjalan dan kami tak punya pembantu.
Di
kota itulah aku bertemu bu bidan sholihah yang menyenangkan, Bu bidan
Siti Nurbaya. Semoga Allah membalas segala kebaikannya..... hiks,
terharu.
Cerita persalinan keduaku penuh rekayasa,
hihihi... alias direncanakan karena Babehnya bayi harus sudah kembali ke
Jakarta untuk urusan pekerjaan hari Ahad. Akhirnya Bu Bidan mengabulkan
permintaan kami untuk melakukan induksi, toh sang janin memang sudah
'matang kata Beliau. Waktu itu hanya beda 2-3 hari dari HPL.
Metode
induksi yang digunakan adalah melalui tablet yang harus diletakkan di
bawah lidah selama beberapa jam. Menurut perhitungan Bu Bidan, jika
dimulai pukul 9 pagi maka reaksi baru akan terjadi pada pukul lima sore,
saat Beliau sudah pulang dinas. Namun Qodarullah..., baru pukul sebelas
reaksi pun terjadi. Aku mengalami pendarahan, namun ketika konsul via
telepon menurut Beliau masih dalam skala wajar. Lalu setengah jam
kemudian mulai terjadi kontraksi, hingga jam 12 akupun tak tahan. Kami
memaksa untuk menunggu di rumah bu bidan, dan Beliau mengizinkan. Saat
itu aku ditemani Mama, suami, dan Budhe yang seorang pensiunan bidan.
Subhanallah...
kalau tahu rasa sakit persalinan yang diinduksi, aku tak akan pernah
mau mengalaminya kecuali terpaksa. Jeda kontraksi berlangsung lebih
cepat dan sakitnya dua kali lipat. Keluhan sempat terlontar dari
bibirku, namun Bu Bidan menenangkanku. Entah pada pembukaan ke berapa
ketubanku baru pecah.
Sekitar pukul 3 sore bayi mungil nan cantik pun lahir ke dunia. Sirna rasa sakitku memandangnya... MasyaaAllah.
Bagaimana dengan yang ketiga? aha... ikuti kelanjutannya nanti ^^