Dhia memasuki ruang kepala sekolah dengan mantap, meski segudang kecemasan berkecamuk di kepalanya. Tok...tok...tok, "Assalamu'alaykum, Pak", lelaki tua yang tengah duduk di dalam ruangan mengangkat kepala sejenak, lalu menjawab salam sambil kembali menatap secarik kertas di tangannya. Dhia masih menunggu di depan pintu hingga lelaki itu melambaikan tangannya menyuruh Dhia masuk.
"Duduk." Perintah Pak Kepala Sekolah pada Dhia. Beliau menyerahkan secarik kertas bermaterai,
"Coba kamu baca baik-baik, barangkali itu dapat melunakkan hatimu.", Dhia menunduk sesaat.
Setelah mengumpulkan segenap keberaniannya dia menjawab lugas, "Tidak, Pak. Saya tetap pada pendirian saya. Tak sedetikpun kerudung ini lepas dari kepala meski hanya sekedar untuk foto ijazah."
Wajah Pak Kepala Sekolah menegang, belum pernah sekalipun ada siswi yang nekat melanggar peraturan foto untuk ijazah di sekolah ini. Dhia begitu berbeda, tetap keukeuh mempertahankan prinsipnya meski harus membuat surat pernyataan yang ditandatangani kedua orangtuanya. Degup jantung lelaki tua itu semakin kencang, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan dia segera 'mengusir' Dhia dari ruangannya.
Ditatapnya segelas teh manis di meja kerjanya. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. Dhia...Dhia...Dhia, orangtua gadis muda itu pasti sangat bangga dengan kekuatan iman yang begitu tertancap di hatinya, jaman edan begini membuat sosok seperti Dhia langka. Benteng pertahanannya telah jebol, air mata mengucur deras membasahi pipi, rasa bersalah berselaput bangga.
Ingatannya berputar ke masa itu, 17 tahun silam dia membuang bayi merah di tong sampah dan hanya bisa memandang pasrah saat bayi itu dipungut sepasang pemulung. Kematian sang istri membuatnya hampir gila. Tak dinyana, belasan tahun diasuh oleh sepasang pemulung miskin malah membuat sang bayi menjadi sosok yang teguh, ya...Dhia-lah bayi itu.
"Duduk." Perintah Pak Kepala Sekolah pada Dhia. Beliau menyerahkan secarik kertas bermaterai,
"Coba kamu baca baik-baik, barangkali itu dapat melunakkan hatimu.", Dhia menunduk sesaat.
Setelah mengumpulkan segenap keberaniannya dia menjawab lugas, "Tidak, Pak. Saya tetap pada pendirian saya. Tak sedetikpun kerudung ini lepas dari kepala meski hanya sekedar untuk foto ijazah."
Wajah Pak Kepala Sekolah menegang, belum pernah sekalipun ada siswi yang nekat melanggar peraturan foto untuk ijazah di sekolah ini. Dhia begitu berbeda, tetap keukeuh mempertahankan prinsipnya meski harus membuat surat pernyataan yang ditandatangani kedua orangtuanya. Degup jantung lelaki tua itu semakin kencang, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan dia segera 'mengusir' Dhia dari ruangannya.
Ditatapnya segelas teh manis di meja kerjanya. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. Dhia...Dhia...Dhia, orangtua gadis muda itu pasti sangat bangga dengan kekuatan iman yang begitu tertancap di hatinya, jaman edan begini membuat sosok seperti Dhia langka. Benteng pertahanannya telah jebol, air mata mengucur deras membasahi pipi, rasa bersalah berselaput bangga.
Ingatannya berputar ke masa itu, 17 tahun silam dia membuang bayi merah di tong sampah dan hanya bisa memandang pasrah saat bayi itu dipungut sepasang pemulung. Kematian sang istri membuatnya hampir gila. Tak dinyana, belasan tahun diasuh oleh sepasang pemulung miskin malah membuat sang bayi menjadi sosok yang teguh, ya...Dhia-lah bayi itu.
