Jika orang berfikir, lakukan semua dengan cinta, maka akan terasa mudah. Kucoba menakar kembali kehadiran sekolah itu di dalam hidupku. Benarkah aku tidak mencintainya, sehingga aku tidak memperlakukannya seakan-akan ini akan berlangsung selamanya???
Hufh... tak perlu kuceritakan, bagaimana perjuanganku untuk mengadakannya, perjuangan yang membuahkan keretakan hubungan dengan 'sing mbaurekso' setempat, terlukanya nama baikku dengan cemooh banyak orang (atau sebenarnya mungkin segelintir orang yang bisa membuat seakan-akan menjadi banyak?).
Dalam perjalanannya, lebih banyak lagi kerikil tajam membentang. Jika kita perturutkan idealisme kita, yah...resiko tidak diminati pasti ada. Sebagaimana 'eksodus' murid-muridku yang dulu. Tapi, apa guna membuat sekkolah sendiri jika kita larut dengan realita yang ada??? Mungkin murid tak banyak, mungkin tekor, tapi... ada satu kepuasan batin tatkala kita tidak menjadikan bocah-bocah itu sebagai ajang 'perang gengsi' dan 'taruhan masa depan'.
Menyelenggarakan sekolah untuk usia dini (pra-SD) tanpa membebani mereka dengan selera pasar 'mahir calistung', tingkatkan profesionalisme, teguh memegang prinsip, 'mengendalikan' tenaga pengajar. Lelah...mungkin itu yang kurasakan. Sehingga aku butuh ruang yang lebih luaaasss...untuk mampu bernafas kembali dan menata semua menjadi lebih baik.
*jelang rapat dengan ortu murid esok hari...
Suka dengan paragraf yang terakhir, melawan arus emang gak pernah mudah. Sukses dengan sekolahnya ya Mbak...
BalasHapusmakasih, mbak Yovita. Do'akan smoga tetap istiqomah ^^. alamat blog Mbak di mana?
BalasHapussalut mak, menentang arus memang gak mudah tapi InsyaAllah niat baik mak selalu diberi jalan oleh Allah..amin
BalasHapusiya mak.... hikz, jadi terharu. makasih ya... do'akan aku selalu
Hapusselesaikan apa yang sudah kita mulai..keep spirit mbak...:)
BalasHapusselesaikan? selesai = the end? hihihi... cemungudh, ya emak ^^ (berasa ngmong sama emak gua, nih...;) ). makasih...
Hapus